Menlu China uraikan cara tepat bangun hubungan China-AS di era baru

Jakarta Polri.co.id – Saat menyampaikan pidato utama di kantor pusat Asia Society di New York pada Kamis (22/9), Anggota Dewan Negara sekaligus Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi memaparkan cara tepat bagi China dan Amerika Serikat (AS) untuk mengembangkan hubungan di era baru.

Usai berpidato, Wang juga menjawab sejumlah pertanyaan di kantor pusat tersebut terkait peran diplomasi kepala negara dalam menstabilkan hubungan China-AS, serta tentang status quo masalah Taiwan.

Dalam pidatonya, Wang mengatakan bahwa implikasi dari hubungan China-AS telah jauh melampaui level bilateral hingga memiliki dampak global. Ekspektasi umum dari masyarakat internasional adalah China dan AS dapat berperan sebagai pemimpin dalam masalah-masalah internasional, memikul tanggung jawab yang diemban negara-negara besar, menstabilkan hubungan bilateral, serta mendorong kerja sama global.

Kepala negara dari kedua belah pihak sama-sama beranggapan bahwa berbagai upaya harus dilakukan hanya untuk meningkatkan, alih-alih menyabotase, hubungan bilateral, bahwa China dan AS seharusnya tidak terlibat konflik atau konfrontasi, dan bahwa kedua negara seharusnya memperkuat komunikasi dan kerja sama, urai Wang.

Wang menyampaikan bahwa AS berulang kali memprovokasi China ketika menyangkut isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan inti China, serta hak pembangunan dan kepentingan China. Wang juga mengusulkan agar stabilitas hubungan bilateral dijaga, dan konflik maupun konfrontasi antara kedua negara harus dihindari.

Tindakan semacam itu bertentangan baik secara logis maupun praktis, lanjutnya.

Akar penyebab dari inkonsistensi ini adalah kesalahan persepsi AS tentang China, dunia, maupun negaranya sendiri, kata Wang. Dia menambahkan bahwa tindakan mendorong “konfrontasi habis-habisan” dengan China maupun memicu “kompetisi strategis” dengan China seluruhnya menyimpang dari jalur yang benar untuk hubungan China-AS.

Berkenaan dengan cara yang tepat bagi kedua negara untuk menjalin hubungan yang baik, Presiden China Xi Jinping telah mengemukakan jawaban yang jelas, yakni Beijing dan Washington harus saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, dan menjalin kerja sama yang saling menguntungkan, papar Wang.

Tanpa rasa hormat, tidak akan ada rasa saling percaya, dan tanpa kepercayaan, tidak akan ada cara untuk menghindari konflik atau melakukan kerja sama yang nyata, tutur Wang, yang menyebutnya sebagai pengalaman penting yang didapat dari pertukaran China-AS sekaligus prasyarat dasar agar hubungan China-AS dapat kembali ke jalur yang benar.

China tidak akan menjadi seperti AS, lanjut Wang, seraya menambahkan bahwa AS juga tidak akan dapat mengubah China berdasarkan apa yang disukai dan tidak disukainya.

Karena di antara AS dan China tidak ada pihak yang mampu menjatuhkan pihak lainnya, kedua negara seharusnya menghormati pilihan masing-masing, ujar Wang.

China senang melihat AS yang terbuka, percaya diri, berkembang, serta progresif, dan AS seharusnya juga menghormati jalur pembangunan yang dipilih China, yakni sosialisme dengan karakteristik China, kata Wang.

Jalur pembangunan ini telah mewujudkan demokrasi dan hak asasi manusia yang nyata bagi rakyat China, imbuh Wang.

China akan dengan teguh mengikuti jalur pembangunan ini serta arah yang telah dipilihnya secara independen, serta akan bergerak maju dengan lebih stabil dan mencapai kemajuan yang lebih besar, ujarnya.

Terkait koeksistensi damai, Wang mengatakan bahwa China dan AS adalah mitra atau musuh dan apakah keduanya harus bekerja sama atau saling berkonfrontasi, yang merupakan isu-isu fundamental dalam hubungan China-AS yang seharusnya tidak diwarnai dengan kesalahan disruptif.

Wang menegaskan bahwa China memilih perdamaian, berpegang teguh pada pembangunan damai, dan menganggap koeksistensi damai sebagai ekspektasi yang paling esensial bagi hubungan China-AS.

Untuk mewujudkan hidup berdampingan yang damai, China dan Amerika Serikat (AS) harus mematuhi aturan yang disepakati oleh kedua pihak, yang, pada tingkat bilateral, adalah tiga komunike bersama China-AS serta konsensus-konsensus penting yang dicapai oleh kedua pemimpin, alih-alih hukum dalam negeri yang diberlakukan satu sama lain, dan yang, pada tingkat global, adalah norma-norma dasar yang mengatur hubungan internasional berdasarkan tujuan dan prinsip Piagam PBB, kata Wang.

Terkait kerja sama yang saling menguntungkan, Wang menuturkan bahwa tidak ada kerja sama yang didasarkan pada skenario “Anda kalah, saya menang”, dan kerja sama yang saling menguntungkan bukan hanya mungkin, namun juga sebuah keharusan, yang merupakan realitas yang dirasakan oleh kedua pihak dalam separuh abad terakhir, dan juga tujuan bersama yang harus terus mereka perjuangkan.

China tidak menampik bahwa ada persaingan di antara kedua negara dalam bidang-bidang seperti ekonomi dan perdagangan, dan China juga tidak gentar menghadapi persaingan semacam itu, ungkap Wang.

Namun, apa yang tidak disetujui oleh China adalah mendefinisikan secara sederhana hubungan China-AS seperti halnya persaingan, karena definisi itu tidak memiliki arti yang mewakili totalitas dan arus utama hubungan China-AS, urai Wang, seraya menambahkan bahwa untuk sementara ini, persaingan harus memiliki batasan, dan yang lebih penting lagi, bersifat adil.

Kedua negara harus memiliki persaingan yang sehat di mana mereka saling mengejar satu sama lain, alih-alih persaingan yang tidak sehat di mana mereka saling bertarung hingga mati, kata Wang.

Wang menuturkan bahwa pihak China bersedia menjalin kerja sama yang lebih menguntungkan dengan AS di bawah premis kesetaraan dan rasa hormat.

Kerja sama yang saling menguntungkan tidak dapat dipisahkan dari atmosfer dan kondisi yang diperlukan, ujar Wang, seraya menyatakan bahwa pihak AS tidak bisa, di satu sisi merugikan kepentingan inti China, sementara di sisi lain, mengharuskan China untuk bekerja sama tanpa syarat.

Dalam sesi tanya jawab usai pidato kunci tersebut, Wang menekankan bahwa diplomasi kepala negara memainkan peran strategis utama yang tidak tergantikan dalam hubungan China-AS.

Presiden AS Joe Biden telah menyatakan komitmen bahwa AS tidak berupaya memicu Perang Dingin baru dengan China, AS tidak berupaya mengubah sistem China, revitalisasi aliansi AS tidak ditujukan kepada China, AS tidak mendukung “kemerdekaan Taiwan”, dan AS tidak berniat untuk memancing konflik dengan China, yang tampaknya, tidak dihormati oleh tim pemerintahan Biden baik dalam sejumlah kebijakan terperinci maupun tindakan mereka terhadap China, urai Wang.

Dalam pidatonya, Wang juga menguraikan masalah Taiwan, yang dia sebut sebagai inti dari kepentingan inti China.

Prinsip Satu China merupakan dasar untuk fondasi politik bagi hubungan China-AS, dan tiga komunike bersama China-AS menjadi “pagar pembatas” terpenting bagi hubungan China-AS, ujar Wang menekankan.

Masalah Taiwan telah menimbulkan risiko yang lebih besar bagi hubungan China-AS, dan sangat mungkin mengakibatkan sejumlah dampak disruptif dalam hubungan bilateral jika tidak ditangani dengan tepat, tutur Wang.

Dari Komunike Shanghai pada 1972, Komunike Bersama China-AS tentang Pembentukan Hubungan Diplomatik pada 1978, hingga Komunike 17 Agustus pada 1982, AS telah membuat komitmen yang jelas secara tertulis bahwa hanya ada satu China di dunia, bahwa Taiwan merupakan bagian dari China, dan Pemerintah Republik Rakyat China adalah satu-satunya pemerintahan China yang sah, papar Wang.

Pemerintahan-pemerintahan AS sejak dahulu semuanya telah menyatakan dengan jelas untuk mematuhi kebijakan Satu China, dan banyak presiden AS telah menyatakan sikap mereka untuk menentang “kemerdekaan Taiwan”, yang semuanya telah dicatat, kata Wang.

Masalah Taiwan muncul sebagai akibat dari kelemahan dan kekacauan dalam bangsa China, dan pasti akan diatasi saat China mewujudkan peremajaan nasional, ujar Wang, seraya menambahkan bahwa hal ini memenuhi tren sejarah dan mencerminkan aspirasi rakyat.

AS harus berpihak pada sisi sejarah yang benar, tekan Wang.

Dalam sesi tanya jawab usai pidatonya, menteri luar negeri (menlu) China tersebut menyampaikan bahwa China telah bersikap dengan jelas dalam kebijakannya terkait masalah Taiwan, yakni, pihaknya akan berjuang untuk mewujudkan reunifikasi damai dengan upaya maksimal dan ketulusan yang tinggi.

Kebijakan ini telah mempertahankan kontinuitas dan stabilitas, imbuh Wang.

Pewarta: Xinhua
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © Polri.co.id 2022

Leave a Comment