Konjen RI: Perempuan adalah penggerak keberhasilan pembangunan

Tokyo Polri.co.id – Konsul Jenderal RI di Osaka Diana Emilia Sutikno pada Jumat menilai perempuan merupakan motor penggerak keberhasilan pembangunan Indonesia saat ini dan di masa depan.

Hal itu disampaikan Diana dalam pernyataan di Tokyo, Jepang, untuk memperingati Hari Ibu.

“Peringatan Hari Ibu menjadi momentum untuk terus mengingatkan bangsa Indonesia bahwa perempuan Indonesia yang berjumlah hampir setengah dari populasi Indonesia juga adalah motor penggerak keberhasilan pembangunan saat ini dan mendatang,” katanya.

Peringatan Hari Ibu pada 22 Desember 2022 itu mengusung tema “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju” dengan subtema “Perempuan dan Ekonomi Digital”.

Diana mengatakan kepemimpinan perempuan selama pandemi COVID-19 tidak diragukan lagi.

Selain itu, lanjut dia, perempuan juga berperan besar dalam menyuarakan hak-haknya guna mendapatkan perlindungan dan kesetaraan gender.

“Selamat Hari Ibu ke-94 kepada seluruh perempuan Indonesia di mana pun berada,” katanya.

KJRI Osaka juga mengajak masyarakat, terutama warga negara Indonesia (WNI) di Jepang, untuk membangkitkan peran perempuan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan menuju kesetaraan bangsa.

“Mari kita sambut Hari Ibu dengan penuh cinta dan rasa hormat dengan terus mendukung perjuangan perempuan mencapai kesetaraan gender dan hak-hak perempuan, termasuk anak-anak perempuan Indonesia,” kata Diana.

Peringatan Hari Ibu digelar oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) KJRI Osaka dengan pemotongan tumpeng dan doa bersama.

Sementara itu, KBRI Tokyo juga mendukung penuh kreativitas, kesetaraan, kepemimpinan dan perlindungan perempuan Indonesia.

“(Kaum perempuan) tidak hanya berperan sebagai pilar keluarga, tetapi sekaligus menjadi fondasi dan tiang penyangga kemajuan peradaban Indonesia,” kata KBRI Tokyo dalam keterangannya.

Hari Ibu berawal dari Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta yang diselenggarakan oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra pada 22-25 Desember 1928.

Agenda besar yang dibahas saat itu di antaranya adalah peran perempuan dalam perjuangan, pembangunan bangsa, kesehatan ibu dan balita serta pernikahan usia dini.

Peristiwa tersebut menjadi tonggak kebangkitan perempuan dalam pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Baca juga: Dubes Heri minta LPK perketat aturan WNI bekerja di Jepang

Baca juga: Indonesia-Jepang sepakati kerja sama farmasi dan alat kesehatan

Baca juga: KBRI Tokyo imbau WNI di Jepang waspadai badai Nanmadol

Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Anton Santoso
COPYRIGHT © Polri.co.id 2022

Leave a Comment