China desak Barat renungkan sejarah kolonial, perbaiki kesalahan

DKI Jakarta Polri.co.id – Dalam sebuah diskusi panel pada sesi ke-51 Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Human Rights Council), Wakil Kepala Misi China untuk PBB di Jenewa, Li Song, mengatakan kolonialisme merupakan “dosa historis” negara-negara Barat sebagai masa paling kelam dalam sejarah upaya mendorong dan melindungi hak asasi manusia global dan bekas luka yang tidak dapat disembuhkan dalam sejarah peradaban manusia.

“Meski umat manusia telah memasuki abad ke-21, warisan kolonialisme masih ada secara luas dengan dampak yang begitu besar,” kata Song dikutip Xinhua, Kamis.

Dia menyerukan penghormatan penuh terhadap jalur pengembangan HAM yang dipilih secara independen oleh negara-negara bekas jajahan dan mengatakan dalam keadaan hubungan internasional yang demokratis saat ini, tidak ada negara yang boleh mengintimidasi, menindas, atau mendikte negara lain.

“Bagaimana bisa negara-negara bekas kolonial itu mengklaim diri sebagai ‘pembela hak asasi manusia’? Kami mendesak negara-negara terkait untuk meninggalkan praktik campur tangan dalam urusan internal negara lain dengan dalih hak asasi manusia, tidak mempolitisasi isu-isu hak asasi manusia dan menjadikannya sebagai alat, serta tidak memaksakan perubahan rezim atas nama hak asasi manusia,” ujar dia.

Utusan China itu juga menyerukan peningkatan bantuan ekonomi ke negara-negara bekas jajahan.

“Mengingat kemakmuran negara-negara bekas kolonial dibangun di atas pengorbanan negara bekas jajahan, maka bantuan ekonomi yang diberikan negara bekas kolonial bukanlah sebuah kemurahan hati, melainkan sebuah kewajiban yang harus dipenuhi,” kata dia.

Dirinya mendesak negara-negara maju untuk mengambil langkah yang lebih konkret dalam penghapusan utang, bantuan pembangunan, dan transfer teknologi untuk membantu realisasi umum hak atas pembangunan negara-negara bekas jajahan dalam konteks pandemi COVID-19.

Selain menyerukan untuk menghapus akar ideologis kolonialisme, Li juga mengatakan dalam diskusi panel itu bahwa kolonialisme tampaknya telah menjadi kosakata sejarah, meski kolonialisme masih ada di dunia saat ini dalam berbagai bentuk, seperti hegemonisme, rasisme, dan xenofobia.

“Semua pihak harus menjunjung tinggi konsep membangun sebuah komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia, meneruskan nilai-nilai bersama seluruh umat manusia, serta mempromosikan perkembangan yang sehat dari tujuan hak asasi manusia global,” katanya.

Pewarta: Xinhua
Editor: Bayu Prasetyo
COPYRIGHT © Polri.co.id 2022

Leave a Comment